Tampilkan postingan dengan label Memberi ASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Memberi ASI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Maret 2013

Menyusui Lebih dari Sekedar Memberi ASI


Menyusui Lebih dari Sekedar Memberi ASI
Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) merayakan ulang tahunnya yang ke-4. Dalam perayaan itu, ada talkshow dengan tema menarik yang dibawakan dr Utami Roesli. Dr Utami dikenal sebagai salah satu pahlawan ASI Indonesia. Ia telah meraih banyak penghargaan, salah satunya Satya Lancana Karya Satya dari Presiden RI (saat itu BJ Habibie).
“Bincang-bincang bersama dr. Utami ini mengupas bahwa menyusui lebih dari sekadar memberikan ASI,” ujar Ketua Pelaksana HUT ke-4 AIMI Tanti Djaafar.
Dalam memulai pembicaraannya, dr Utami menjelaskan bagaimana cara memberi ASI yang benar. Menurutnya ada empat tahapan:
1. Proses menyusui dimulai secepatnya yaitu segera setelah bayi lahir. Proses tersebut dikenal sebagai Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Dalam proses IMD, bayi diletakkan di kulit ibunya paling tidak satu jam.
2. Menyusui sesuai kemauan bayi. Ibu sebaiknya tidak membatasi atau menjadwalkan pemberian ASI. Lakukan proses menyusui tersebut kapanpun bayi mau.
3. Dalam enam bulan pertama yang masuk ke dalam mulut bayi hanya ASI.
4. Susui anak sampai dua tahun atau lebih bersama pemberian makanan pendamping ASI.
Cara pemberian ASI yang dipaparkan di atas, menurut dr. Utami, sesuai dengan empat standar emas pemberian makanan bayi yang ditetapkan WHO. Khusus mengenai pemberian makanan pendamping ASI, dokter lulusan Universitas Padjajaran itu menyarankan makanan itu dibuat sendiri oleh ibu atau makanan rumahan bukan kemasan.
“Makanan keluarga menurunkan 6% kematian anak,” jelas dr. Utami saat ditemui di Restoran Sindang Reret, Jakarta Selatan, baru-baru ini.
Wanita yang merupakan kakak almarhum Harry Roesli itu kemudian membeberkan berbagai manfaat proses menyusui. Apa saja?
Pertama, ibu yang menyusui bayinya setidaknya sampai enam bulan mengurangi kemungkinan ibu menderita kanker payudara, kanker rahim dan kanker indung telur. Perlindungan terhadap kanker payudara ini sesuai dengan lama pemberian ASI. Ibu yang menyusui lebih dari dua tahun, akan 50% lebih jarang menderita kanker payudara.
Kedua, bayi yang tidak diberi ASI, bisa menurunkan perkembangan kecerdasan kognitifnya. Berbagai penelitian sudah mengungkap hal tersebut.
Penelitian pada 3.800 anak di Australia misalnya. Anak-anak tersebut diteliti sejak lahir untuk mencari tahu pengaruh pemberian ASI dan perkembangan kognitifnya. Hasilnya, dalam tes kosakata, anak perempuan yang mendapatkan ASI memiliki skor 8,2 poin lebih tinggi. Sedangkan anak laki-laki memiliki skor 5,8 poin lebih tinggi.
Ketiga, anak ASI lebih sehat. Hal itu karena selain makanan, ASI mengandung cairan hidup yang terdiri atas zat hidup seperti daya tahan tubuh. Sekali lagi berdasarkan penelitian, di Amerika Serikat 400 bayi meninggal/tahun akibat muntah dan mencret. 300 di antara 400 bayi tersebut tidak disusui. Bayi yang diberi susu formula juga bisa enam kali lebih sering mengalami penyakit saluran pernapasan.
Selain tiga hal di atas, masih ada banyak manfaat lain dari ASI. Oleh karena itu dr. Utami tidak henti-hentinya memperjuangkan ASI.
Agar pemberian ASI lebih optimal, dokter yang merupakan ibu dua anak itu meminta pada para ibu agar dalam proses menyusui, tidak sekadar memberi ASI saja.
“Menyusui bukan hanya memberi makan, tapi juga mendidik. Dengan menyusui kita akan merangsang kelima inderanya,” tuturnya.
Saat menyusui, dr. Utami menganjurkan ibu untuk bicara kepada bayi. Jika ingin lebih baik lagi, ibu menyanyi.
“Melodi akan merangsang otak kanan dan kata-kata merangsang otak kiri,” jelas dokter yang meraih gelar masternya di University The City of Manila, Filipina itu.

sumber : http://www.ibukitakartini.com

Ibu yang Memberi ASI Eksklusif Terhindar dari Penyakit-penyakit Ini

ASI adalah nutrisi penting yang dibutuhkan oleh bayi, setidaknya dalam masa 6 bulan awal kehidupannya. Namun tak banyak bayi di Indonesia yang mendapatkan cukup ASI eksklusif. Alasannya, para ibu tak sempat memberi ASI karena sibuk bekerja. Padahal banyak manfaat kesehatan para ibu yang diperoleh dengan menyusui bayinya.

"Menyusui dengan benar merupakan langkah awal meningkatkan kualitas ibu dan kualitas hidup anak di hari nanti. Namun bekerja merupakan penyebab utama ibu tidak dapat menyusui dengan benar," kata dr Utami Roesli, SpA ketua Sentra Laktasi Indonesia dalam acara seminar 'Kiat Sukses Memberikan ASI bagi Ibu Bekerja' di Gedung Kemenkes RI, Jl HR Rasuna Said, Jakarta, dan ditulis pada Senin (17/12/2012)..

Menurut dr Utami, bekerja bukanlah alasan bagi ibu sehingga tidak dapat menyusui bayinya. Ibu dapat memerah ASI-nya di tempat kerja dan menyimpannya di kulkas untuk diberikan kepada bayinya di rumah. Bukannya apa-apa, sebab menyusui juga sebenarnya amat penting bagi kesehatan ibu.

Ada banyak penelitian yang menjabarkan berbagai manfaat menyusui bagi ibu, antara lain sebagai berikut:

1. Mengurangi risiko kanker rahim
Sebuah penelitian di Jepang melibatkan 155 orang ibu pengidap kanker rahim dan dibandingkan dengan 99 orang ibu yang tidak mengidap kanker rahim. Hasilnya menemukan bahwa risiko kanker paling tinggi ditemukan pada ibu yang pernah melahirkan namun tidak menyusui bayinya.

Para peneliti lalu menyimpulkan bahwa menyusui dapat menurunkan risiko kanker rahim. Penelitian ini dimuat dalam Jornal of Experimental Medicine tahun 2006.

2. Mengurangi risiko rheumatoid arthritis
Sebuah penelitian yang dimuat jurnal Arthritis and Rheumatism tahun 2004 dilakukan terhadap 121.700 orang ibu. Hasilnya menemukan bahwa menyusui selama lebih dari 12 bulan mengurangi risiko terjadinya rheumatoid arthritis. Semakin sedikit waktu yang digunakan unrtuk menyusui, risikonya terserang rheumatoid arthritis akan semakin tinggi.

3. Mengurangi risiko maternal diabetes
Sebuah penelitian tahun 2006 terhadap 150.000 orang ibu menemukan bahwa setiap tahun menyusui dapat menurunkan risiko seorang ibu menderta diabetes sebesar 15 persen. Semakin lama menyusui, maka risiko terserang diabetes juga semakin kecil. Penelitian yang dimuat Journal of American Medicine Association ini menyimpulkan bahwa menyusui dapat mengurangi risiko terjadinya diabetes tipe II di hari tua.

4. Mengurangi risiko osteoporosis
Sebuah penelitian tahun 2005 yang dimuat journal Acta Othopaedica menegaskan bahwa menyusui untuk waktu yang lama berkaitan dengan kekuatan mineral tulang dan berkurangnya risiko patah rulang.

5. Mengurangi risiko kelebihan berat badan
Ibu-ibu hamil seringkali mengalami kenaikan berat badan setelah melahirkan. Menyusui bayi agaknya dapat membantu mengembalikan ukuran tubuh wanita menjadi seperti semula. Dalam sebuah penelitian yang dimuat American Journal of Clinical Nutrition terhadap 405 orang ibu di Brazilia, peneliti menemukan terdapat pengurangan berat badan sebanyak 0,44 kg setiap bulannya akibat menyusui.

6. Mengurangi stres dan kecemasan
Penelitian yang dimuat jurnal Biological Research of Nursing tahun 2005 menjelaskan bahwa menyusui juga baik bagi kesehatan mental ibu. Para peneliti membandingkan 84 orang ibu yang menyusui bayinya secara eksklusif dan 99 orang ibu yang memberikan susu formula serta 30 orang wanita sehat yang tidak melahirkan. Secara keseluruhan, ibu yang menyusui memiliki perasaan positif dan lebih banyak mengerjakan hal-hal yang positif.

sumber : http://anakbunda2-oke.blogspot.com